BLOKAGUNG, Banyuwangi – Dalam rangka memperluas jaringan kemitraan pendidikan tinggi di tingkat nasional, Universitas KH. Mukhtar Syafaat (UIMSYA) Blokagung, Banyuwangi, menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Universitas PGRI Argopuro (UNIPAR) Jember pada Rabu, (15/5/2025). Penandatanganan MoU ini dilaksanakan di ruang pertemuan Kampus 1 UIMSYA dan dihadiri langsung oleh jajaran pimpinan dari kedua institusi. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi kedua universitas untuk memperkuat sinergi dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan sumber daya manusia. MoU ini sekaligus menjadi bagian dari upaya kedua perguruan tinggi dalam membangun jejaring yang lebih luas untuk meningkatkan mutu dan daya saing masing-masing institusi di kancah nasional.

Kegiatan diawali dengan sambutan hangat dari Rektor UIMSYA, Dr. KH. Ahmad Munib Syafa’at, Lc., M.E.I. Dalam sambutannya, ia menyampaikan ucapan selamat datang kepada rombongan UNIPAR Jember serta mengucapkan terima kasih atas kunjungan tersebut. Ia juga memperkenalkan sejarah perkembangan UIMSYA yang telah menunjukkan pertumbuhan signifikan sejak didirikan pada tahun 2001. “UIMSYA dulunya adalah STAIDA (Sekolah Tinggi Agama Islam Darussalam) dengan dua program studi. Pada tahun 2016, kami bertransformasi menjadi IAIDA, dan pada 2023, alhamdulillah, resmi menjadi universitas dengan sebelas program studi aktif,” jelasnya. Selain itu, UIMSYA juga tengah mengusulkan lima program studi baru, terdiri atas dua program S2—Pendidikan Bahasa Arab dan Ekonomi Syariah—serta tiga program S1—Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Pendidikan Agama Islam (PAI), dan Hukum Keluarga Islam (HKI).

Sambutan dilanjutkan oleh Rektor UNIPAR Jember, Basuki Hadi Prayogo, STP., M.Si., yang turut menyampaikan apresiasi kepada UIMSYA dan menjelaskan tiga pilar utama identitas UNIPAR. Pertama, UNIPAR dikenal sebagai “kampus wong cilik” karena menjadi salah satu perguruan tinggi penerima terbanyak program beasiswa KIP Kuliah di Indonesia, menempati peringkat ketiga secara nasional. Kedua, UNIPAR juga mengukuhkan diri sebagai kampus yang inklusif, dikenal sebagai “kampus disabilitas” karena memiliki mahasiswa penyandang disabilitas terbanyak se-Indonesia. Ketiga, UNIPAR adalah “kampus santri” karena lebih dari 50% mahasiswanya berasal dari kalangan santri yang menempuh pendidikan di pesantren di sekitar wilayah Jember. “Ketiga karakteristik ini menjadi kekuatan kami untuk terus membangun pendidikan yang merata, terbuka, dan berbasis nilai-nilai keislaman,” ujar Basuki.

Usai sambutan dari kedua pimpinan perguruan tinggi, acara dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepahaman antara UIMSYA dan UNIPAR Jember. Penandatanganan ini mencakup kerjasama strategis dalam bidang pendidikan, pelatihan dosen, pertukaran mahasiswa, serta pengembangan kurikulum berbasis pesantren dan teknologi. Kerjasama ini diharapkan dapat memberikan manfaat konkret bagi mahasiswa dan dosen di kedua kampus, serta membuka ruang kolaborasi dalam proyek penelitian dan pengabdian masyarakat yang bersifat lintas institusi. Setelah prosesi penandatanganan, dilaksanakan pula penyerahan cinderamata antara kedua institusi sebagai bentuk apresiasi dan kenang-kenangan atas kunjungan dan kesepakatan kerjasama tersebut.

Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh wakil ketua senat bidang non akademi Drs. H. Moh. Khozin Kharis MH. Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting dari masing-masing institusi. Dari pihak UIMSYA, hadir Rektor, Wakil Senat Bidang Non Akademik, Wakil Rektor I dan III, Kepala Lembaga Humas dan Kerjasama, serta Kepala Biro Administrasi Keuangan. Sementara dari UNIPAR Jember, rombongan dipimpin oleh Rektor dan didampingi oleh Kepala Bagian Kemahasiswaan. Dengan berlangsungnya MoU ini, kedua universitas menegaskan komitmennya untuk terus menjalin sinergi dalam membangun pendidikan tinggi yang inklusif, progresif, dan berdaya saing nasional berbasis nilai keislaman dan pesantren. (ZUL)

