Nyai Maryam adalah istri Kiai Syafa’at Blokagung Banyuwangi, merupakan putri terakhir dari Kiai Karto Diwiryo Abdul Hadi. Sebagaimana diketahui Kiai Syafa’at meninggalkan Pesantren di Tasmitutthalabah Jalen yang dipimpin oleh Kiai Ibrahim Bin Irsyad karena diusir oleh Gus Dim, putra Kyai Ibrahim yang dikenal punya perilaku diluar nalar manusia. Kiai Syafa’at memilih lari ke Blokagung bersama 2 temannya, karena di tempat itu mempunyai seorang kakak. Di kemudian hari, Blokagung menjadi pertemuannya dengan Ayah dari Nyai Maryam yang meminta Kiai Syafa’at untuk memilih putri-putrinya untuk dijadikan istri, karena mengetahui Kiai Syafa’at memiliki pengetahuan agama dan akhlak yang baik. Uniknya Kiai Syafa’at justru memilih putri paling akhir, yakni Nyai Maryam. Tentu hal ini menjadi isyarat bahwa Nyai Maryam adalah putri dan perempuan terpilih sebagai pendamping hidup Kiai Syafa’at yang istimewa.
Diantara keistimewaan Nyai Maryam seperti yang diceritakan Kyai Syafa’at kepada Kiai Mahfudz Rosyid Bangorejo adalah kemampuannya mengetahui akan datangnya tamu tanpa diberitahu terlebih dahulu. “_Ibumu iku wali, sebab ben ape ono tamu mesti weruh disek, meski kadang yo tengah wengi barang_(Ibumu itu seorang wali karena setiap akan tamu selalu tahu lebih dulu tanpa diberitahu, bahkan kadang di tengah malam), terang Kiai Syafa’at kepada Kiai Mahfudz Rosyid yang saat itu menjadi santrinya sehingga membahasakan panggilan Ibu kepada Nyai Maryam.
Lebih lanjut Kiai Syafa’at yang dikenal sebagai kiai karismatik yang selalu mengayomi santri dan masyarakat tersebut menjelaskan kepada Kiai Mahfudz Rosyid bahwa saat Kiai Syafa’at pulang dari pengajian terkadang pukul 24.00 malam hingga pukul 02.00 bahkan 03.00 dini hari Nyai Maryam selalu masak, ketika ditanya “_opo ape ono tamu maneh_ (apa mau ada tamu lagi)”?, tanya Kiai Syafa’at. “Inggih, niki pun meh dugi”, jawab Nyai Maryam seakan sudah tahu pasti kalau tamunya sebentar lagi akan datang. Anehnya beberapa saat kemudian tamu datang yang sesuai dengan perkiraan Nyai Maryam baik waktunya maupun jumlahnya. Tentu hal ini bagian dari karomah yang diberikan Allah kepada Nyai Maryam atas kebaikan hati dan keikhlasannya mendampingi Kiai Syafa’at mendarmabaktikan ilmu dan dirinya kepada santri, umat dan masyarakat. Dan tentu tidak setiap orang mampu melakukannya.
Nyai Maryam selain dikaruniai keikhlasan, juga kesabaran dan keistiqamahan. Hal ini terbukti dari kesabarannya dalam menerima kebiasaan Kiai Syafa’at yang hampir seluruh waktu dicurahkan untuk pengajian serta sabar dalam menerima kebiasaan Kiai Syafa’at yang selalu menyedekahkan uang yang dimiliki kepada umat dan masyarakat. Nyai Maryam juga istiqamah dalam memimpin Pesantren Darussalam Putri, memberikan pendidikan langsung kepada santri bahkan Nyai Maryam adalah perintis berdirinya TK dan SD Darussalam Blokagung.
Begitulah kisah Bu Nyai Maryam dan karomahnya yang membuktikan bahwa kekasih Allah itu memiliki hati yang lapang dan jiwa yang tenang dalam hidup dan memperjuangkan agamanya Allah sebagaimana firman Allah dalam QS Yunus ayat 62: _Alaa inna auliyaa’allahi laa khoifun ‘alaihim wa laa hum yahzanuun_ (Ketahuilah bahwa sesungguhnya (bagi) para kekasih Allah itu tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan merekapun tidak bersedih). Aim

