Surabaya, 2 Juli 2026 – Antusiasme tinggi mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya mewarnai kegiatan Visiting Lecturer pada Kamis (2/7). Kuliah tamu ini menghadirkan dosen Universitas KH. Mukhtar Syafaat (UIMSYA) Blokagung Banyuwangi sekaligus anggota ilmuwan UNESCO, Coach Ahmad Syamsul Muarif, S.Sos., M.A., bersama deretan gelar sertifikasi profesionalnya di bidang terapi. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari agenda penguatan kerja sama akademik yang berkelanjutan antara UIMSYA dan UINSA.
Dalam kesempatan tersebut, Coach Ahmad menyampaikan materi bertema “Psikoterapi: Teori Konseling Satir Therapy (Satir Change Model)”. Materi ini mengulas konsep perubahan yang dikembangkan oleh Virginia Satir, dengan menekankan pentingnya kesadaran diri (self-awareness), penerimaan diri, komunikasi yang sehat, serta kemampuan individu dalam menghadapi perubahan sebagai bagian dari proses pertumbuhan pribadi yang holistik.
Suasana perkuliahan berlangsung sangat dinamis berkat gaya penyampaian narasumber yang komunikatif, interaktif, dan inspiratif. Melalui berbagai ilustrasi kasus yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mahasiswa diajak untuk lebih mudah memahami konsep teoretis yang disampaikan. Pendekatan ini sekaligus membantu mereka menghubungkan materi tersebut dengan pengalaman pribadi maupun tantangan nyata yang akan dihadapi di masa depan sebagai calon konselor.
Antusiasme peserta terlihat jelas dari banyaknya mahasiswa yang aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan karena materi yang disampaikan dinilai sangat relate dengan persoalan pribadi, keluarga, dan sosial. Melalui pemahaman terhadap Satir Change Model ini, mahasiswa memperoleh perspektif baru untuk mengenali potensi diri, mengelola emosi, membangun komunikasi yang lebih sehat, serta memahami perilaku orang lain secara lebih empatik.
Pada akhir sesi, Coach Ahmad menegaskan bahwa seorang konselor profesional tidak hanya dituntut menguasai teori, tetapi juga harus memiliki kematangan emosional dan kemampuan membangun hubungan yang autentik, sebab proses membantu orang lain harus diawali dari kemampuan memahami diri sendiri. Kegiatan Visiting Lecturer ini pun diharapkan mampu memperkuat sinergi kedua perguruan tinggi dalam mencetak calon konselor yang profesional, humanis, dan berkontribusi nyata bagi masyarakat.

