Talkshow Taubat : Masuk Napi Keluar Santri Menuju Masyarakat yang Madani

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Banyuwangi – Sabtu, 5 Oktober 2024, mahasiswa prodi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI) Universitas KH. Mukhtar Syafaat (UIMSYA) yang sedang menjalani program magang menggelar  talk show Taubat bertema “Masuk Napi, Keluar Santri,  Menuju Masyarakat yang Madani” berlangsung di Aula Lapas II A Banyuwangi. Tema ini menyoroti fenomena yang jarang dibicarakan secara luas, tetapi memiliki dampak signifikan dalam reformasi sosia.  Program pembinaan spiritual di lembaga pemasyarakatan yang mengubah para narapidana (napi) menjadi pribadi yang lebih baik, layaknya seorang santri. Program ini tak hanya menjadi jalan bagi para napi untuk bertaubat, tetapi juga merupakan upaya nyata dalam membangun masyarakat yang lebih beradab, madani, dan penuh kasih.

Dalam talkshow ini, menghadirkan 3 narasumber yang menyampaikan aspirasinya untuk warga binaan yaitu, ka.lapas Agus Wahono, Wakil Rektor UIMSYA bapak Abdi Fauji, DPM Magang Profesi Lapas dengan Nur Hafifah. ia menjelaskan mengenai rehabilitasi, pengembangan diri dan kesehatan mental untuk warga binaan pemasyarakatan. Menurut beliau, manfaat pendekatan spiritual di lapas lebih dari sekadar mengajarkan para napi untuk memahami ajaran agama. Namu, program ini juga mengajarkan tentang makna mendalam dari taubat yang sesungguhnya, yaitu perubahan dari dalam diri, pengakuan atas kesalahan, dan upaya perbaikan.

Agus Wahono mengatakan, “Taubat adalah jendela bagi setiap manusia untuk memperbaiki diri”. Ketika seorang napi bertaubat, ia menemukan arah baru dalam hidupnya. Hal tersebut yang menjadi harapan dari petugas bagian pembinaan. Harapan-harapan tersebut tertuang menjadi tema besat acara talk show yaitu keluarnya napi sebagai santri. Transformasi ini bukan hanya proses individu, tetapi merupakan bagian dari peran sistem dalam membina kembali manusia yang pernah tersesat. Program rehabilitasi ini tidak hanya menyentuh aspek spiritual, namun juga akan keberhasilan kehidupan napi dalam melanjutkan kehidupannya. Mereka bangun menjadi orang yang kuat ketika ia menjadi orang yang salah dan harus menjalani hukuman.

Terkait penurunan Tingkat Residivisme salah satu narapidana bernama bapak badrun (WBP) melontarkan pertanyaan “Bagaimana cara kita untuk tidak mengulangi kesalahan lagi atau lebih dikenal dengan Residivisme”,  Jawaban yang diberikan oleh narasumber yaitu bu Hafifah mengatakan “ jauhi sircle atau golongan/ lingkungan yang dapat membuat dia bisa kembali lagi pada jalan yang tidak tepat dan melanggar hukum”.

Kepala Lapas Kelas IIA, bapak Agus Wahono, juga memberikan pandangannya mengenai program-program yang ada di Lapas II A Banyuwangi  Dalam paparannya, Bapak Agus mengungkapkan bahwa sejak diterapkannya program binaan santri, tingkat residivisme atau pengulangan kejahatan oleh mantan napi di lapas mulai berkurang.  Terlebih adanya asrama santri yang menjadikan narapidana menjadi benar-benar berubah dari segi ibadah kepada Allah SWT. Perubahan-perubahan tersebut berupa tindakan ibadah yang semakin meninfkat seperti: para narapidana wajib bangun sebelum subuh untuk melaksanakan sholat tahajud, melaksankan sholat dhuha, setiap jum’at dan beberapa event tertentu selalu diadakan. Kegiatan tersebut berupa khataman al qur’an di bagian musholla para narapidana. Pernyataan ini membuktikan bahwa pendekatan berbasis taubat dan pembinaan agama dapat efektif mengurangi kemungkinan napi kembali melakukan tindakan kriminal setelah bebas.

Bapak Agus Wahono menekankan bahwa lembaga pemasyarakatan saat ini tidak hanya bertugas sebagai tempat hukuman, tetapi juga sebagai tempat rehabilitasi yang menawarkan kesempatan kedua bagi para napi. Beliau menyebutkan, “Melalui program ini, kami ingin agar para napi tidak hanya sekadar menyelesaikan masa hukumannya, tetapi mereka keluar dengan identitas baru, sebagai pribadi yang lebih baik, sebagai santri yang bertaubat”. Penjelasan beliau membuktikan bahwa rehabilitasi berbasis spiritual bisa menjadi solusi efektif dalam membangun kembali moral para napi. Keberhasilan program ini juga dapat memberikan inspirasi untuk lembaga pemasyarakatan lainnya di seluruh Indonesia. Reintegrasi ini sangat penting dikarenakan keberhasilan program pembinaan tidak akan maksimal tanpa adanya dukungan masyarakat yang inklusif dan menerima mantan napi dengan tangan terbuka.

“Saya merasa segala pertanyaan terjawab pada acara tak Show ini” ujar bapak sayyid Fadil salah seorang narapidana yang ada di lapas banyuwangi. Sekarang, saya ingin menggunakan pelajaran dan ilmu yang saya dapat ini untuk membantu narapidana meningkat kepercayaan diri dalam menghadapi stigma sosial yang sudah pasti akan mereka rasakan dan lalui. Menurut mereka ada sedikit saran untuk acara yaitu kurang waktu bagi para napi untuk bertanya. Harapan kedepannya bisa mejadi kegiatan yang asyik dan tetap memiliki nilai edukasi untuk kehidupan seorang napi.

Kesadaran akan pentingnya reintegrasi sosial ini perlu terus ditanamkan. Masyarakat yang madani tidak hanya diukur dari bagaimana ia menegakkan hukum dan aturan, tetapi juga dari bagaimana ia memfasilitasi dan mendukung perubahan positif bagi anggotanya, termasuk mantan napi. Maka orang dalam lapas itu adalah orang yang sudah benar, namun orang luarlah yang membuat hidup seseorang kembali menuju jalan yang salah”, ujar bapak Agus ( kalapas).

Show Taubat “Masuk Napi, Keluar Santri” bukan hanya sekadar tema. Ini adalah simbol dari upaya transformasi manusia yang lebih baik, yang merangkul prinsip-prinsip taubat, rehabilitasi, dan reintegrasi sosial menuju masyarakat yang madani. Para napi yang menjalani program ini, keluar dengan semangat baru sebagai santri, membawa harapan baru bagi diri mereka dan masyarakat.

Tantangan yang dihadapi para petugas abdi negara masih banyak, namun dukungan dari lembaga pemasyarakatan serta masyarakat menunjukkan bahwa rehabilitasi adalah langkah yang benar. Selanjutnya, upaya ini harus terus didukung oleh berbagai elemen masyarakat, agar para napi benar-benar mendapatkan kesempatan kedua untuk kembali dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Masyarakat yang madani bukanlah sebuah konsep yang hanya ada di atas kertas, melainkan bisa diwujudkan melalui dukungan kepada mereka yang ingin memperbaiki diri dan melangkah ke arah yang lebih baik. (Khusnul khotimah-Mahasiswa Mangang BKI UIMSYA 2024).