Kuliah Umum di UIMSYA: Peluang dan Tantangan AI bagi Generasi Milenial

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Blokagung, Banyuwangi – Aula Kampus 2 Universitas KH. Mukhtar Syafaat (UIMSYA) Blokagung Banyuwangi dipenuhi semangat dan antusiasme mahasiswa pada hari ini (29/10/2024). Acara kuliah umum yang diselenggarakan oleh Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) ini dihadiri oleh 250, yang siap menyerap ilmu dan wawasan baru mengenai dampak teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan dan perekonomian Indonesia.

Acara dimulai tepat pukul 10.00 WIB, dibuka oleh MC yang memperkenalkan tema besar kuliah umum ini, yaitu “Fenomena AI sebagai Peluang dan Tantangan Generasi Milenial Meningkatkan Pendidikan dan Perekonomian Indonesia”. Suasana semakin khidmat ketika seluruh peserta berdiri untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, menegaskan rasa nasionalisme yang kuat di kalangan mahasiswa.

Setelah menyanyikan lagu kebangsaan, momen spiritual dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dibawakan oleh Presiden Mahasiswa UIMSYA, Muhammad Afif. Suara merdunya membangkitkan suasana yang penuh rasa syukur dan harapan, mengingatkan semua yang hadir akan pentingnya nilai-nilai agama dalam menghadapi tantangan zaman modern.

Rektor UIMSYA, Dr. KH. Ahmad Munib Syafa’at, LC., M.Ei., kemudian memberikan sambutan selamat datang. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya acara ini sebagai wadah untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan yang relevan menghadapi era digital. “AI bukan hanya sebuah alat, tetapi juga bisa menjadi teman dalam mengembangkan pendidikan dan perekonomian kita,” ungkapnya. Gus Munib, sapaan akrab rektor UIMSYA itu juga menyatakan harapannya agar mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk bertanya dan berinteraksi langsung dengan pemateri.

Sambutan Rektor UIMSYA Blokagung Banyuwangi Dr. KH. Ahmad Munib Syafa’at LC., M.EI (29/10/2024)

Pemateri utama, Prof. Dr. H. Hepni S.Ag., MM., C.Pem, Rektor UIN Khas Jember, memulai presentasinya dengan bercerita tentang sufi yang bijak yg mengumpulkan ke 24 anaknya dan menanyakan cita – cita mereka masing-masing masing. Setiap anak menyampaikan cita-cita mereka: menjadi ilmuwan, petani, penulis, aktivis lingkungan, hingga pengusaha sosial. Setelah mendengar semua cita-cita itu, sang sufi merenung sejenak.

Sang sufi kemudian mengingatkan mereka, “Apa pun yang kalian pilih, lakukanlah dengan integritas dan cinta. Dunia membutuhkan orang-orang yang tidak hanya berpikir untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain.”

Prof. Hepni saat menyampaikan kuliah umum (29/10/2024)

Dilanjutkan Prof Hepni menjelaskan mengenai definisi dan perkembangan AI. Dalam konteks pendidikan, beliau menjelaskan bagaimana AI dapat digunakan untuk meningkatkan metode pengajaran dan pembelajaran. “Kecerdasan buatan dapat membantu dalam personalisasi pendidikan, di mana setiap mahasiswa dapat belajar sesuai dengan kecepatan dan gaya belajarnya masing-masing,” jelasnya.

Selanjutnya, Prof. Hepni menggaris bawahi tantangan yang dihadapi oleh generasi milenial. “Meski AI membawa banyak peluang, ada juga tantangan yang harus dihadapi, seperti kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi dan pentingnya penguasaan keterampilan digital,” paparnya. Beliau mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta, agar dapat berkontribusi dalam pengembangan teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Prof. Hepni memberikan tips tentang keterampilan yang perlu dikuasai, seperti pemrograman, analisis data, dan kemampuan berpikir kritis. Ia menekankan bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang adaptif terhadap perubahan zaman.

Acara diakhiri dengan foto bersama dan penyerahan cinderamata kepada pemateri. Rasa syukur dan kebanggaan terlihat di wajah para peserta, menyadari bahwa mereka baru saja mendapatkan wawasan berharga untuk membangun masa depan yang lebih baik, baik di bidang pendidikan maupun perekonomian Indonesia. Dengan semangat baru, mahasiswa UIMSYA bertekad untuk menjadi bagian dari solusi dalam menghadapi tantangan yang ditawarkan oleh era kecerdasan buatan ini. (Zul)