Surabaya — Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) Universitas KH. Mukhtar Syafaat (UIMSYA) Blokagung Banyuwangi kembali menorehkan kontribusi nyata dalam pengembangan keilmuan nasional. Melalui partisipasinya dalam Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) PABKI (20/9/2025), UIMSYA memperkenalkan hasil inovasi akademik berupa alat ukur psikologis “Takzim” yang dikembangkan untuk mendukung keilmuan BKI berbasis nilai-nilai Islam.
Kegiatan nasional ini diselenggarakan oleh Perkumpulan Ahli Bimbingan dan Konseling Islam (PABKI) dan berlangsung pada 18–20 September 2025 di Hotel Excotel, Surabaya. Mukernas PABKI 2025 dihadiri oleh lebih dari 58 dosen dari 24 universitas Islam negeri dan swasta di Indonesia yang memiliki program studi BKI.
Dalam forum nasional ini, UIMSYA diwakili oleh Ketua Program Studi BKI, Nurin Baroroh, M.Psi., Psikolog, dan Wakil Dekan II Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam, Halimatus Sa’diah, S.Psi., M.A. Kehadiran keduanya tidak hanya sebagai peserta aktif, namun juga sebagai kontributor yang memperkenalkan produk intelektual terbaru UIMSYA kepada forum akademik nasional: alat ukur “Takzim”.

Alat ukur Takzim merupakan instrumen psikologis yang dikembangkan untuk mengukur sikap hormat dalam konteks budaya dan ajaran Islam. Konsep dasar alat ini berangkat dari nilai-nilai adab, sopan santun, serta penghormatan kepada sesama—yang menjadi bagian tak terpisahkan dalam bimbingan dan konseling berbasis nilai Islam.
“Kami di Prodi BKI UIMSYA telah mengembangkan alat ukur Takzim yang dapat digunakan secara luas, baik di lingkungan akademik maupun dalam praktik konseling. Alat ini telah melalui proses uji validitas dan reliabilitas, dan telah kami daftarkan secara resmi di Hak Kekayaan Intelektual (HKI),” ungkap Nurin Baroroh dalam forum tersebut.
Ia menambahkan bahwa alat ukur ini tidak hanya menjadi sarana pengukuran perilaku atau sikap, tetapi juga mencerminkan kontribusi UIMSYA dalam mengembangkan instrumen yang berakar pada nilai-nilai Islam dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Respons Positif dari Presidium PABKI
Menanggapi presentasi dari UIMSYA, A. Said Hasan Basri, S.Psi., M.Si., selaku perwakilan Presidium PABKI menyambut baik inisiatif tersebut dan menekankan pentingnya kolaborasi antarprodi dalam pengembangan keilmuan.
“Kolaborasi penulisan jurnal ilmiah dan pengembangan alat ukur seperti ini sangat penting untuk memperkaya khasanah intelektual dalam organisasi PABKI. Alat ukur Takzim yang diperkenalkan oleh UIMSYA adalah salah satu bentuk nyata inovasi akademik yang patut diapresiasi dan bisa digunakan secara nasional,” tegasnya.
Langkah Strategis UIMSYA Menuju Penguatan Mutu Akademik
Keterlibatan aktif UIMSYA dalam Mukernas PABKI 2025 menjadi langkah strategis dalam memperkuat mutu akademik dan memperluas jejaring kerja sama antarperguruan tinggi Islam. Menurut Halimatus Sa’diah, S.Psi., M.A., partisipasi dalam forum ini juga membuka ruang untuk integrasi inovasi UIMSYA ke dalam ekosistem keilmuan nasional.
“Kami berharap alat ukur Takzim ini tidak hanya digunakan di UIMSYA, tetapi juga dapat menjadi rujukan nasional. Ini adalah bentuk kontribusi UIMSYA dalam memperkaya metodologi BKI, khususnya dalam pendekatan yang kontekstual dan sesuai nilai-nilai keislaman,” jelasnya.
Seluruh peserta menyambut dengan antusias dan terlibat aktif dalam forum ini, UIMSYA menegaskan posisinya sebagai bagian dari garda terdepan dalam pengembangan keilmuan BKI yang progresif, adaptif, dan tetap berpijak pada nilai-nilai Islam.

